Nurulfahmy’s Weblog

maka biarkan aku menuliskan kata-kata

tak ada malam ketujuh, empat puluh,
apalagi seratus…

Cerpen: Nurul Fahmy

Di musim penghujan September lalu Dul Kesot meninggal dunia. Berita itu tersiar dari pesan singkat yang dikirim dari nomer ke nomer melalui telepon seluler. Seperti berlesatan, berloncatan, pesan-pesan itu sampai dalam waktu yang nyaris bersamaan dengan bunyi yang bermacam ke puluhan orang yang berada di penjuru kampung. Segera mereka mengetahui berita duka itu. Kemudian, sebagian dari orang-orang itu menyiarkannya pula ke puluhan nomer lain. Sangat cepat, sungguh singkat. Melampaui siar berita duka cara lama; bunyi kentongan, beduk dan suara azan yang berkumandang dari moncong pengeras suara di langgar.
Sesaat sepeninggal Dul Kesot, para pelayat berdatangan. Sungguh banyak. Maklum, selain kaya raya, Dul Kesot kesohor sebagai dermawan yang disegani. Setiap menjelang Lebaran, Dul Kesot rutin memberikan sumbangan kepada masyarakat; ratusan kantong plastik berisi tepung, gula, mentega, minyak goreng, kain sarung, dan kopiah disebar, dibagi-bagikan kepada setiap orang yang datang. Selain itu, Dul Kesot juga dekat dengan para pejabat. Jika saja tidak keburu meninggal dunia, Dul Kesot diyakini bakal menduduki kursi bupati pada pilkada tahun ini.
Meski ramai suasana tetap hikmat. Orang banyak tak ada yang bersuara keras. Sebagian orang bercerita pelan-pelan, menyebut-nyebut kedermawanan Dul Kesot. Sebagian lagi berbisik menanyakan penyebab kematiannya. Dari desas desus didapatkan berita; pagi itu tiba-tiba saja Dul Kesot mengeluh sesak napas, suhu badannya tinggi, tak lama ia menghembuskan napasnya yang terakhir. Kata desas desus itu pula, Dul Kesot kena serangan jantungnya oleh penyakit. Dari dalam rumah duka, sayup-sayup terdengar isak tangis di sela-sela tahlil dan doa.
Sementara pelayat terus berdatangan, para penggali kubur semakin giat mengayunkan cangkul dan linggis, menggali liang bagi jenazah Dul Kesot.
“Lokak makan besak kito, Jok. Nasi lemak.”
“Iyola, dak meleset lagi, Wak!”
“Kapan rencananyo Wak Dul ko nak dikuburi?”
“Dak tau jugo sayo, tapi mungkin siang ko la, habis Zuhur.”
“Apo dak nak nunggu Kulup lagi?”
“Ai, dak tau nian sayo, Wak. Sayo ko dak ngerti nian!”
Para penggali itu kemudian terus menggali lubang, berkubang tanah, bercampur peluh, serta bau ketiak yang menyengat. Sesekali diselingi senda gurau.
Kulup yang disebut-sebut barusan adalah anak Dul Kesot, pewaris harta kekayaan petani berdasi itu. “Budak lolo, baru besak, dak tau di hal,” setidaknya begitulah pikir orang-orang mengenai Kulup. Semua tahu, Kulup sudah lama sekali tidak pulang. Di saat remaja sebayanya asyik masyuk berhura-hura dengan segala fasilitas yang diberikan orang tua, Kulup malah terbang jauh, bahkan teramat jauh meninggalkan semuanya dalam waktu yang lama. Padahal pemilik kebun sawit ribuan hektar itu ingin agar Kulup tidak jauh-jauh darinya, supaya dapat segera meneruskan usaha yang telah dirintisnya. Tapi apa daya Dul Kesot, Kulup mangkir.
Bisnis Dul Kesot yang bermula dari penebangan dan penggergajian kayu gelondongan secara manual itu, perlahan-lahan tumbuh menjadi pabrik pengolahan kayu dengan peralatan canggih yang mempekerjakan ratusan anak buah. Selain memiliki bisnis penebangan dan pengolahan kayu, Dul Kesot juga merambah usaha pengerukan pasir dan batu kerikil di sepanjang sungai, serta jual beli hasil bumi untuk di ekspor ke beberapa negara tetangga.
Meski kemudian ribut-ribut soal ilegal logging, dan segenap perusahaan pengolah kayu tebangan liar di kota ini ditutup, bisnis Dul Kesot tetap berjalan dengan lancar, bahkan semakin menggurita. Dul Kesot pebisnis jempolan. Naluri bisnisnya luar biasa. Ia yakin, bisnis pembabatan hutan dan pengolahan kayunya tak akan bertahan lama. Maka, jauh sebelum orang-orang ribut soal hutan yang semakin gundul, longsor, banjir, pemanasan global, dan dampak lainnya, Dul Kesot telah membuat manuver cantik. Justru setelah puluhan ribu hektar hutan menjadi rawa, setelah sungai-sungai semakin melebar, setelah beberapa buah desa tenggelam dilamun longsor dan banjir, Dul Kesot telah lebih dulu mencuci tangan dengan menginvestasikan seluruh kekayaannya ke bidang usaha lain. Alhasil, selain perkebunan sawit yang terhampar luas sejauh mata memandang, beberapa POM bensin, dan gudang-gudang penumpukkan stok bahan pangan, ditenggarai jaringan bisnis Dul Kesot juga meliputi beberapa swalayan dan sekolah-sekolah di kota ini.
Demikianlah Kulup. Ia tak hendak meneruskan jaringan bisnis ayahnya itu. Ia ingin sekolah. Dul Kesot pasrah. Ia hanya dapat berharap, setelah dewasa dan tamat dari sekolah, Kulup pulang kampung dan menerapkan ilmunya dalam bisnis keluarga mereka itu. Namun Dul Kesot kecele. Bukan ekonomi atau manajemen bisnis yang dipelajari Kulup seperti harapnya, melainkan persoalan hukum, filsafat dan agama yang ditekuninya. Dan nyaris, setiap hari ia berkubang dengan buku-buku.
“Dak apola, sayo dulu jugo dak tamat sekolah dak,” ujar Dul Kesot. “Dalam bisnis tu,” lanjutnya, “yang penting naluri, sikok lagi iko dan iko,” katanya sambil menunjuk kepala dan menggesek-gesekkan jempol ke jari telunjuk tangannya. “Apo be yang dipelajarinyo, dak penting, asak dio mau ngurus bisnis ko, kageknya. Kerno, harto sayo ko tuk dio jugo la” Demikian Dul Kesot menghibur diri.
“Mudah-mudahan la, Wak.” Orang-orang mengamini.
Rinai panas mengiringi kerumunan orang yang berjejalan mengusung keranda Dul Kesot ke pekuburan. Bunyi tanah bergedebug, bergeseran menimpa papan penutup liang Dul Kesot. Genang air mata pecah, diiringi sedu sedan dan tabur bunga. Entah berapa lama, entah berapa saat, prosesi pemakaman akhirnya usai. Dengan berlinang air mata, Kulup—yang datang tepat pada saat keranda bergerak ke pekuburan—memohonkan kepada para hadirin, agar semua kesalahan dan khilaf almarhum ayahnya dimaafkan. Dan segenap hutang piutang yang bersangkutan dengan almarhum, mohon diurus kepada ahli waris. “Agar tak menjadi siksa bagi almarhum nantinya,” terang Kulup. Tak lupa ia meminta kepada para hadirin pelayat sekalian untuk memanjatkan tahlil dan doa-doa di rumah duka selama tiga malam berturut-turut.
“Hhhh, budak degil tu, akhirnyo sadar jugo.” Gumam orang-orang.
* * *
Hujan bulan September benar-benar menunjukkan perangainya. Meski begitu, genangan air di selokan, di jalan tanah berbatu dan berlumpur tak menyurutkan orang-orang untuk datang ke rumah almarhum Dul Kesot. Selesai shalat Maghrib, rumah itu penuh oleh tetamu. Bahkan beberapa pengunjung rela bersila di teras yang dialasi tikar, sebagian lagi berdiri di halaman.
Sudah sejak pagi tadi rumah almarhum Dul Kesot ramai oleh para ibu-ibu. Terlihat kesibukan luar biasa di dapur. Asap mengepul. Ada yang mengiris bawang, mengupas kentang, menggiling cabe, dan menanak nasi, hingga menjerang air. Belasan ekor ayam dibantai. Dua ekor kambing disembelih. Puluhan kilo ikan Patin disiang untuk tahlil malam ketiga itu.
Menjelang Ashar tadi, kursi-kursi dan meja-meja telah diangkut ke luar rumah dan diletakkan di gudang. Karpet dan permadani digelar sepenuh ruangan. Tenda-tenda dipasang di halaman. Jika ditambah umbul-umbul dan janur kelapa, sungguh, suasana tak ubahnya seperti ada kemantenan. Tidak seperti malam pertama dan kedua, malam ketiga ini para pendoa biasanya ramai berdatangan untuk memberikan doa-doa kepada almarhum. Pagi tadi Bidin telah menyebar undangan ke kampung-kampung. Maklum, seperti kebiasaan di sini, malam ketiga adalah puncak dari tahlilan. Dan biasanya, pada malam ketiga ini para pendoa disuguhi macam-macam hidangan. Nasi beserta lauk-pauknya ditambah oleh hidangan lain.
Cuaca agak sedikit mendung, sesekali terdengar guntur sahut menyahut, sepertinya hujan akan turun, sama seperti malam-malam sebelumnya.
“Heng kali heng, hong kali hong. Phuuaah,” canda Cecep, sambil menghembuskan napasnya kuat-kuat ke udara, meniru gaya pawang hujan. “Tenang be, tengah malam gek ujan baru datang,” sambungnya. Sementara yang lain cuma senyum-senyum, mengamati tingkah laki-laki setengah waras itu. Para pendoa semakin banyak berdatangan. Mereka terlihat gembira, sepertinya tahlil malam ini adalah acara kumpul-kumpul, saling lepas kangen. Sebagai lama tidak jumpa dengan para kerabat, mereka saling jabat tangan, bersalaman dan berangkulan.
Tahlil dimulai. Hawa dingin tidak mengurangi kekhusukan para pendoa untuk bertahlil. Terkadang goyangan tubuh dan kepala mereka terlihat begitu cepat, seirama lafal tahlil. Semakin keras. Semakin cepat. Para pendoa berlomba-lomba mendoakan agar semua amal dan pahala Dul Kesot diterima Tuhan di alam sana. Di teras dan halaman rumah, anak-anak, hingga pemuda tumplek blek dalam alunan tahlil. Tapi dasar anak-anak, ada-ada saja tingkah mereka. Sambil berdoa, terkadang mereka bercanda dengan sesamanya, saling cuil dan saling senyum. Namun, suara-suara canda mereka terhimpit oleh doa-doa orang banyak.
Jam telah menunjukkan pukul sembilan malam, doa-doa telah selesai dibacakan. Orang-orang menunggu dengan tenang. Sesekali terlihat juga mereka bersenda gurau, memantik koset, dan membakar rokok. Sebagai pembuka, diangsurlah gelas-gelas berisi air minum kepada para pendoa. Dengan semangat mereka mengeser-geser gelas itu kepada orang di sebelahnya. Apalagi anak-anak. Mereka terlihat bersemangat sekali mengoper-oper gelas itu kepada sesama temannya. Setelah itu keluarlah piring-piring kecil berisi kue-kue dan roti-roti kering.
Setelah semua kebagian, Kulup berdiri untuk mempersilahkan tamu-tamunya mencicipi hidangan. Tak lupa Kulup mengucapkan terima kasih kepada para pendoa. “Saya sangat berterima kasih sekali kepada kerabat, tetangga, bapak-bapak, teman, adik-adik dan anak-anak sekalian yang telah mendoakan arwah orang tua saya dengan tulus, iklash dan sangat antusias. Mudah-mudahan kiranya doa kita semua diterima dan didengar oleh Tuhan. Sebagai penutup kata, silahkan para tamu semua mencicipi hidangan yang telah tersedia. Sebelumnya saya mohon maaf, sengaja semua hidangan kami kirimkan ke panti-panti asuhan dan rumah-rumah jompo, karena saya yakin, mereka lebih membutuhkan daripada kita yang ada di sini. Sementara kita di sini cukuplah dengan roti dan segelas air saja, bagaimana bapak-bapak, setuju?” Kulup bertanya.
Terdengar suara-suara, gaduh, gerutu dan hembusan napas panjang. Belum lagi habis beberapa kerat roti dan segelas air minum, dari halaman terdengar orang mengucapkan salam dengan cukup keras, pertanda pamit pulang. “Assalammualaikum!” Satu persatu para pendoa itu meninggalkan rumah Dul Kesot. Dari sungut-sungut mereka aku mendengar gerutu, “pasti dak ado malam ketujuh, empat puluh, apolagi seratus!”

* * *

Oktober 2005 – Februari 2008

Februari 22, 2008 Ditulis oleh nurulfahmy | essai | | No Comments Yet

cerita pendek

Kalau Dia Keluar,
Saya Menyalakan Cerutu

Cerpen Nurul Fahmy
Tak begitu lama bagi mereka untuk menanti sebatang cerutu dinyalakan, hanya sesaat saja dibandingkan dengan 16 bulan pengejaran panjang. Dan. Ting! Dess! Dess! Dua butir peluru melesat di keremangan lampu. Sebutir mengenai bahu kiri, sebutir lagi menghantam jambangan di lobi. Ia merintih kesakitan. Sekonyong-konyong ia mencabut revolver dari balik bajunya. Namun, dess! Lagi, sebutir peluru melesat di antara jerit orang-orang yang kalang-kabutan. Mengenai punggung dan menembus jantung.
“Kami akan menonton di Metropole, tapi belum jelas benar. Kalian bersiaga saja. Kami bertiga, dua wanita dan satu laki-laki. Aku mengenakan gaun merah,” bisikku di telpon kepada komandan polisi di seberang sana. Namun ia telah terbiasa menyebarkan bayangan sebanyak mungkin di penjuru kota ketika sedang berjalan dan menghapusnya sebelum menghilang bagai kelebatan kucing hitam dalam kegelapan.
“Siapa yang percaya tembok, lemari, tong sampah, lorong gelap dan pesawat televisi, apalagi kesiur angin yang berhembus dingin di Metropolis ini,” katanya.
Dalam perjalanan ke Metropole itulah ia membanting stir mobil, menikung ke arah kiri. Ban berderit, mencicit karenanya. Dan lantas berkata, “Bagaimana kalau kita ke Biograph, filmnya bagus. Kisah seorang anggota gangster yang dihukum mati di kursi listrik.”
Ini konyol. Seharusnya aku tak perlu ikut serta dalam mobil itu. Aku cukup menguntit mereka dengan taksi dan menelpon polisi ketika aku benar-benar yakin bahwa mereka telah sampai pada suatu tujuan. Dengan cara itu aku akan lebih aman. Sekarang mampuslah aku terperangkap dalam lubang yang kubuat sendiri.
Mobil terus melaju membelah malam di kawasan paling hingar di Metropolis ini dan berbelok ke Biograph. Aku semakin kecut. Tubuhku menciut. Jangan-jangan tindakanku menghubungi polisi pagi tadi telah tercium olehnya. Oh, God. Laki-laki ini tak akan memberiku ampun. Sebutir peluru dari revolver di balik bajunya itu sudah cukup untuk mengantarkan nyawaku yang ringkih ini ke akhirat. Dan itu bukanlah perkara sulit baginya.
Tahukah, saat itu aku diperhadapkan pada buah simalakama yang kupetik sendiri. Mau apa lagi. Maju kena, mundur pun aku tak bisa. Sungguh, tanganku berkeringat. Peluh dingin terbit dari seluruh lubang pori-pori di keningku. Bagaimana cara memberi tahu polisi bahwa kami tidak jadi ke Metropole, melainkan ke Biograph. Minta berhenti dan menelepon polisi, sama dengan menyorongkan tubuhku ke tengah jalan pada saat lalu lintas sedang ramai. Tubuhku kian gemetar. Dari balik kaca, aku memandang kota yang bermandikan cahaya lampu yang bagai kilatan mata api. Sesekali aku meliriknya yang lagi menyetir, dan Bettie.
***
Mulanya aku menganggap itu adalah lelucon pria untuk mengambil hati teman kekasihnya, dengan mengaku-ngaku sebagai penjahat paling ulung. Bukan mustahil, carut perekonomian yang kian semrawut kadang membuat masyarakat bertingkah aneh. Lebih dari 13 juta imigran bergentayangan di sesudut kota, hingga meluber ke jalan-jalan. Kilau belati yang mematikan tiba-tiba akan disorongkan ke lehermu. Dan sejulur tangan akan menarik paksa barang-barang berharga yang kau bawa ketika melintasi lorong-lorong manapun di kawasan ini. Namun begitu, ada saja lelucon konyol tentang penjahat; sebagian anak muda mengidolakan perampok bertopeng, sebagian lagi meniru-niru kostum yang digunakan oleh mereka. Dari selebaran di dinding kota dan surat kabar, aku mengetahui: Siapa bisa menangkapnya, polisi telah menyediakan uang 100.juta, dan separuhnya bagi yang menunjukkan keberadaannya. Tak mampu menangkapnya, 50 juta cukuplah bagiku uang sebesar itu.
Sore sebelum kami berangkat ke Biograph—atau Metropole, seperti rencana awal—Bettie memamerkan gaun hitam pemberian kekasihnya itu, “Cantikkah aku dengan dengan gaun ini, Ann? Aku ingin selalu terlihat cantik di matanya. Kau tahu, aku mencintainya. Kami akan mempunyai anak dan segera menikah, dan kami akan tinggal di Jakarta. Kau harus menghadiri pernikahan kami, Ann.” Kata Bettie berbunga-bunga. Perutnya terlihat buncit. Ia hamil.
Astaga!!
**
Garong paling ulung, paling berbahaya dan paling dicari oleh polisi itu lahir dari hubungan ganjil pria kulit putih yang dikutuk keluarga dengan perempuan lacur berkulit coklat. Setelah gagal menggugat warisan dan dinyatakan kalah oleh pengadilan, pria itu menyendiri di pinggiran kota. Tak lama pemabuk itu ditemukan mengapung di bak mandi setelah menenggak segelas Vodka yang dicampur serbuk Arsenik.
Anak yang lahir dari hubungan ganjil itu tumbuh jadi mahluk serampangan, dan suka membenamkan diri dalam perpustakaan, membaca berbab-bab kitab, dan buku-buku hukum dan sejarah. Pada usia 14 tahun untuk pertama kalinya ia berurusan dengan polisi, dan diajukan ke pengadilan karena mencuri berpeti-peti Whisky dari sebuah gudang di perkebunan. Dan pergi ke sekolah dalam keadaan teler.
Setahun kemudian—setelah dibebaskan ia masuk perkumpulan gereja, dan menyatakan ingin menjadi pendeta—ia mencuri lagi. Dan diam-diam menghukum anak seorang jaksa yang menghinanya sebagai pria dungu tak punya nama keluarga. Tak ayal bocah nyinyir itu dibetotnya ke sebuah mesin penggergaji kayu yang sedang menyalak garang. Anak itu meraung ketakutan. Sambil menyemburkan serapah dari mulutnya, ia tertawa terkekeh-kekeh. Dan baru menekan tombol off, ketika beberapa sentimeter lagi mata-mata gergaji siap melumat-lumat tubuh anak malang itu. Ia baru melepaskannya setelah anak itu berjanji akan mencium pantatnya. Pada usia 15 tahun ia membuat seorang perempuan berang, karena mengangkangi seorang gadis berambut pirang.
Atas perbuatannya, setan kecil yang suka mengayunkan pentungan kasti itu di hukum 15 tahun kurungan. Dalam bui, ia bersekutu dengan beberapa gembong perampok kawakan, dan mendapat semacam pendidikan gratis tentang seluk-beluk dunia gangster, merancang program, dan merencanakan pelarian bersama-sama. Namun tak perlu baginya bersusah payah untuk kabur. Atas permintaan beberapa warga terhormat ia dibebaskan dengan syarat.
“Ia hanya terpengaruh, sebenarnya ia adalah anak yang baik,” ucap beberapa warga lugu.
Untuk merayakan pembebasannya, pada hari Minggu gereja memberi tema kebaktian “Kembalinya Si Anak Hilang”. Dalam pada itu, ia merubah wujudnya sebagai malaikat, dan mengatakan kepada para jemaat bahwa ia sangat menyesal. Dengan berlinang air mata para jemaat yang tertipu saling berpelukan dengannya. Setelah itu ia bergegas pergi. Entah kemana.
Tak perlu lama baginya untuk memberikan kejutan. Dua minggu setelah dibebaskan, polisi dibuat kelabakan oleh serangkaian ulah yang dilakukannya. Bersama kawanannya, ia merangsek sebuah pabrik roti di pinggiran kota. Mulanya mereka berpura-pura mencari kerja. Namun pemilik pabrik curiga, karena hari itu adalah hari pembayaran gaji. Dan tentu saja karena dalam laci mejanya terdapat sejumlah uang. Pemilik pabrik meraih senapan di laci. Namun ia mendahului. Pistol meletup dan melukai pemilik pabrik.
Pekan itu petualangannya baru saja dimulai. Pagi mereka mengupak sebuah toko obat, siangnya giliran sebuah bank nasional disantroni, dan sore hari ia mengagetkan orang-orang yang sedang belanja di sebuah swalayan. “Hallo, manis, ini adalah perampokan,” sapanya kocak kepada kasir.
Tak kurang dari 16 bulan ia dan kawanannya telah membuat repot polisi di seluruh negara bagian. Bagai buldozer, ia menggiling apa dan menggilas siapa saja. Malam-malam di Metropolis dan sekitarnya berubah menjadi kawasan hantu. Jika sore meruap, orang bergegas menutup jendela dan memasaknya dengan palang pintu. Brankas bank dan swalayan digerendel dan mereka telah menambah jumlah gembok, menutup tirai dan mengunci pintu. Orang-orang pulang dengan langkah yang besar-besar. Mereka tak ingin jika tiba-tiba saja harus berjumpa dengannya atau kawanannya.
Mesin kemudian mencetak wajahnya, dan disebar ke seluruh negara bagian. Surat kabar-surat kabar menuliskannya dengan huruf kapital dan memberi julukan aneh kepadanya: “Si Kulit Terbakar”. Spion dan mata-mata di tempatkan di setiap sudut kota. Jalan kecil, lorong gelap, bar, diskotik, perumahan kumuh, apartemen mewah tak luput dari pengintaian mereka. Namun ia dan kawanannya bagai hantu. Muncul secara tiba-tiba, dan menghilang tiba-tiba pula. Sebagian polisi mengatakan, ia bagai belut.
Polisi nyaris patah hati, ketika pada suatu hari telpon di kantor berdering. Seorang perempuan peragu melaporkan bahwa mereka akan menuju Metropole. Namun seorang agen terpercaya mengatakan, ia baru saja melihat kelebat bayangannya dalam sebuah mobil yang melesat bagai setan di Biograph. Polisi bertindak cepat, satuan khusus dikerahkan untuk menjaring dan memukulnya. Mereka mengepung kawasan Biograph. Sebagian menyamar sebagai pengunjung, sebagian lagi berlagak sebagai pemabuk yang bingung. Pada saat itulah sebuah sandi dibuat sebagai isyarat untuk melumpuhkannya, “Kalau dia keluar, saya menyalakan cerutu.”
**
Malam baru saja menapaki bangunan dan gedung-gedung bertingkat yang kumuh di Metropolis, ketika gerimis mulai menampar jendela, ketika seorang laki-laki berlari masuk ke dalam Royal Bar ini. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, berkulit coklat terbakar dan berambut legam. Matanya tajam dan liar. Ada seulas kumis di bawah hidungnya. Namun ada awan kelabu menggayut di wajah itu.
Sebagai pelayan bar yang baik aku menawarkannya minuman. Barangkali saja bisa merontokkan awan kelabu itu. Sekaligus penawar dingin setelah berlarian dalam gerimis. Ia kemudian minum bagai onta di padang pasir. Semalaman ia mabuk dan menceracau kian kemari. Aku membimbingnya ke mobil pada saat bar sudah tutup. Esoknya ia datang lagi. Kami pun akrab dan terlibat asmara.
Berminggu-minggu setelah itu, sambil meneguk bergelas-gelas Whisky ia mengatakan akan mengajakku tinggal di Jakarta. Daerah mana pula itu? Aku pun tak tahu. Tapi entahlah, aku menurut saja apa katanya. Aku telah membayangkan, kami akan tinggal di sebuah rumah. Aku melahirkan seorang bayi yang lucu. Dan setelah itu kami akan menikah di Jakarta. Oh, Jakarta. Tunggulah kami, seruku.
Begitulah, malam itu kami nonton film di Metropole. Ia mengajak serta temanku bersama kami. Selama perjalanan kami membisu. Dari balik kaca, aku memandang kota yang bermandikan cahaya lampu yang berwarna-warni. Tiba-tiba ia membanting stir mobil, dan menikung ke kiri. Ban mobil berderit, mencicit karenanya. Ia mengatakan akan ke Biograph.
Lobi Biograph yang remang telah dipenuhi oleh orang-orang yang ingin menonton. Tapi sedari turun dari mobil aku merasa ada sesuatu yang ganjil. Aku merasa kami sedang diamat-amati oleh beberapa pasang mata. Aku melirik padanya, tapi ia terlihat tenang. Aku pun mencoba bersikap tenang. Meski sedikit ada khawatir dalam hatiku.
Kami keluar pada saat film telah benar-benar usai. Ia berjalan di depan duluan. Sampai di lobi itulah aku melihat seseorang yang berdiri di balik tiang menyalakan cerutu dengan Zippo. Terdengar dua letupan senjata. Ia merintih. Tak lama terdengar lagi sebuah letupan. Dan tubuhnya terkapar bersimbah darah. Aku menjerit. Meraung. Mendekap tubuhnya yang tak berdaya.
**
Di Biograph ia seperti tidak mencium gelagat busuk. Sampai pada saat dua peluru meletup dan sebutir bersarang di bahu kirinya, ia tetap tak menunjukkan kecurigaan apapun pada Anna. Namun, ketika ia telah terkapar dan polisi telah mengucapkan terima kasih kepada Anna, sebuah pukulan keras tiba di wajahnya. Sesaat pandangannya menjadi kabur, tapi ia masih dapat melihat Bettie yang sesengukan berdiri di depannya. Siap menyemburkan sejuta magma.
**

Thehok, November 2007

Judul diambil dari Jean-Marrie Pelaprat. Intisari, Juni 1980.

Februari 9, 2008 Ditulis oleh nurulfahmy | essai | | No Comments Yet

Pergulatan

Sejarah dan Dampak Politik
Oleh: Nurul Fahmy

Dalam kitab usang Plato, Republik, ada pesan Socrates tentang dongeng yang harus diceritakan kepada anak-anak. Menurutnya, para pejabat negara harus mengawasi penulisan fabel dan legenda dan menolak semua yang tidak memuaskan. “Demi pembangunan watak anak-anak,” lanjut filsuf tua itu lagi, “kita harus memerintahkan kepada segenap ibu dan inang pengasuh agar menceritakan dongeng-dongeng yang telah kita—pejabat negara, kaum cendekiawan, dan lain-lain—setujui saja.”
Lantas, amsal tentang legenda ini dipahat di atas batu dan dijadikan prasasti, diukir menjadi relief dan dituliskan dalam buku-buku sejarah. Bahkan nyaris selama beberapa abad Nusantara dalam kejayaan Majapahit, plus 32 tahun dalam konteks keindonesiaan dalam rezim Orde Baru, sejarah menjadi sesuatu yang pasti, mutlak, kaku dan beku. Berdosa jika dikoreksi. Jikapun ada yang harus dikoreksi, haruslah lewat sensor ketat penguasa. Dan, selagi tidak mengganggu kepentingan politik penguasa, koreksi ini sah-sah saja. Dengan demikian—untuk menghindari sensor itu—adalah wajar sekiranya Mpu Prapanca dalam Negarakertagama, membutuhkan banyak metafora dalam menggambarkan sisi kelam kehidupan rakyat di Majapahit.
Begitulah, koreksi atas kesalahan pembuatan jumlah dana yang ‘disetorkan’ kepada pemerintah pusat oleh para pejuang rakyat di Jambi muncul dari Usman Meng—pelaku sejarah Jambi—dan segera direspon oleh Wakil DPRD Jambi. Jumlah dana dalam relief yang baru saja selesai dibuat dan diresmikan pada 6 Januari lalu oleh Gubernur Jambi, sempena perayaan hari jadi Provinsi Jambi itu, seharusnya menurut Usman Meng adalah 380 dolar Singapura, bukannya 350 seperti yang terpahat. Dalam pada itu pula, Usman Meng ‘mencak-mencak’ seraya mengkoreksi tulisan kantor gubernur pada relief itu, yang menurutnya lagi harus ditulis dengan kata “Goebernoer” dalam ejaan lama.

Bukannya menyelidiki—atau menginsyafi diri—tentang kebenaran jumlah uang tersebut, Wakil DPRD Provinsi Jambi dengan serta merta—ketika ditanya sejumlah wartawan—menudingkan tunjuk (mencari kambing hitam) kepada seniman pembuat relief, seraya mengatakan, “ini adalah kesalahan mereka.” Seniman yang gemetar karena minimnya tinjauan historis atas relief yang mereka pahat, bergegas mengayunkan palu, menghancurkan karya yang telah mereka buat sendiri, demi mengubah data tersebut.
Informasi apa yang kita dapatkan dari kejadian ini. Sekilas kita dapat mengetahui minimnya pengetahuan sejarah para pejabat dalam pemerintahan kita: termasuk Wakil DPRD sendiri, termasuk pimpinan proyek, atau kepala dinas atau siapapun yang menjadi pengawas proyek pembuatan relief yang menelan biaya 500 juta itu. Sehingga lalai, dan dengan begitu mudah ‘diintimidasi’—meski ‘intimidasi’ ditujukan untuk mengkoreksi kesalahan—oleh pelaku sejarah. Dan anehnya, dengan mudahnya mereka lempar batu sembunyi tangan, mengunjukkan kesalahan kepada seniman pembuat relief.
Adalah wajar, sebagai pelaku sejarah, Usman Meng sangat peduli tentang hal ini. Karena setidaknya beliaulah yang mengetahui kejadian sebenarnya. Selain bernostalgia, Usman jelas bermaksud meluruskan sejarah. Tapi, lepaskah Usman Meng dari faktor distorsi, subjektifitas, karena usia yang lama atau ancaman keuzuran? Bagaimana kalau saat itu beliau sudah wafat, atau tidak hadir di tempat? Bagaimana kalau seandainya pada saat itu beliau sedang ngawur, misalnya, karena pikun, atau sedang terkena sindrom paranoina kolonialisme atau sindrom lainnya, sehingga data yang disampaikan menjadi fiktif sesuai apa yang ada di kepalanya saja? Sudah tentu kesalahan penulisan data sejarah ini akan terus terpatri di sana.

Inilah yang harus dibuktikan secara objektif. Membuka kembali berkas-berkas kuno tentang sejarah perjuangan rakyat Jambi pada saat itu: Sejarah lokal yang tak pernah diajarkan di sekolah-sekolah di provinsi ini. Materi sejarah yang terlanjur didominasi oleh cerita tentang kepahlawanan para pejuang pusat dan sentral-sentral pergerakan.

Anak sekolah mana di ranah bertuah ini yang mengetahui siapa itu Kolonel Abunjani, atau Sultan Thaha Syarifudin? Sudah tentu, selain nama jalan di kawasan Sipin dan nama bandar udara, sedikit sekali informasi yang mereka dapatkan tentang itu.
Lagi, kita tanyakan kepada anak sekolah di daerah ini, siapa di antara mereka yang mengetahui sepak terjang Orang Kayo Hitam yang terlanjur diselimuti mitos keris Siginjai? Tak satupun mungkin dari mereka yang mengetahui bagaimana kisah sang legenda itu, selain cerita-cerita mistik tentangnya. Bahkan orang tuapun tidak. Termasuk juga kuncen penjaga makam. Makam yang sebentar lagi hilang digerus abrasi sungai Batanghari yang dilalu-lalangi tongkang-tongkang yang mencangklong kekayaan alam Jambi. Kisah sang legenda yang tenggelam ditelan cerita kehebatan Naruto dan keseksian Paris Hilton. Makam yang senantiasa disinggahi oleh peziarah (termasuk para pejabat) untuk meminta berkat dan restu, sambil memberikan sesaji, berupa seekor ayam atau kambing.

Eitt, tunggu sebentar! Sebelum mempertanyakan anak sekolah yang sedang masyuk dengan handphone-nya sambil ber-sms ria, seraya mengatakan “emang gue pikirin”, sebaiknya kita pertanyakan Wakil DPRD dan pejabat yang hadir pada saat itu—termasuk Gubernur—tentang pengetahuan mereka atas sejarah daerahnya sendiri. Pernahkah mereka mempelajari sejarah lokal perjuangan rakyat Jambi ketika duduk di bangku sekolah, dulu? Atau sejauh mana kebertahuan mereka tentang sejarah daerah yang mereka kuasai ini? Sehingga koreksi harus datang dari pelaku sejarah sendiri. Tidakkah pada waktu itu mereka insyaf, bahwa sekiranya data tersebut adalah salah?
Ah, daripada saling salah-menyalahkan, mending kita mempertanyakan guna sejarah bagi masyarakat luas dan tentunya juga bagi para pejabat. Misalnya, adakah dampak politis dari kesalahan penulisan data pada relief itu terhadap ‘gonjang-ganjing’ pilwako yang akan datang? Atau, adakah dampak sosial dari kesalahan penulisan data sejarah itu terhadap rasa lapar, penanggulangan banjir, perbaikan ekonomi warga, atau adakah kesalahan itu berdampak terhadap nilai ekspor hasil bumi yang mengalami inflasi? Tidak ada. Toh, kesalahan itu tidak berdampak apa-apa, kecuali bagi Usman Meng sendiri.
Beruntunglah Usman Meng yang pernah memanggul senjata itu, dan pernah meletuskan bedilnya ke arah gerombolan pasukan penjajah, cukup disegani. Sehingga suaranya terdengar sebagai letusan meriam. Sehingga orang-orang di sekitarnya kasak-kusuk saling menyalahkan. Dan, malanglah nasib seniman pembuat relief yang tak punya referensi dan tinjauan historis. Dan juga sejauh ini, koreksi itu dibenarkan, karena tidak mengandung muatan yang berdampak politis.
Namun, adakah dampak politis dari tidak tersebutkannya capaian-capaian yang telah diraih Pemkot Jambi dalam pidato Gubernur di depan khalayak pada 6 Januari lalu? Banyak. Salah satunya adalah dampak terhadap pencitraan dan legitimasi prestasi Pemkot Jambi. Dan ini jelas berpengaruh terhadap kepentingan politik dan kampanye pilwako yang akan datang. Siapa yang peduli, siapa yang kecewa? Banyak. Di antaranya adalah Walikota sendiri. Namun tidak bagi Gubernur yang kelelahan membacakan draf pidatonya. “Tidak mungkin semuanya harus disebutkan, bukan? Lagipula itu tidak ada dalam konsep pidato saya.” Ujarnya. Nah! Siapa yang salah? Siapa yang harus dikambinghitamkan? Lantas, apakah ini juga dapat dikategorikan kesalahan penulisan sejarah, karena sengaja tidak dituliskan dan disebutkan? Atau sengaja menutup mata terhadap sejarah?
“Tolong jangan dipolemikkan,” ujar Kabag Humas Setda Kota Jambi, setelah mengumpulkan sejumlah wartawan dan membacakan prestasi yang diraih oleh instansi tempat ia berdinas. Apa maksudnya, coba? Ah, politik dan sejarah, sesuatu yang paradoks di negeri ini. Sejarah ternyata masih saja akan dipelintir demi kepentingan politik.
* * *
Nurul Fahmy,

Februari 9, 2008 Ditulis oleh nurulfahmy | essai | | & Komentar

essai budaya

pada mulanya adalah kedele, bukan tempe
Oleh Nurul Fahmy
I
Tak pantas, mungkin,—karena juga bukan kapasitas saya—membicarakan standarisasi-standarisasi teater dalam centang perenang dunia perteateran di Indonesia yang dalam catatan Afrizal Malna lebih dari 80 persen kelompok-kelompok teater yang ada di ini negeri (mungkin) tidak pernah mendapatkan pendidikan teater. Namun, oleh semangat yang meletup-letup untuk tetap juga berteater, kelompok-kelompok itu kemudian tumbuh sebagai kelompok eksperimental non pendidikan formal atau pseudo-eksperimental, sebagaimana laiknya mahasiswa/siswa jurusan teater di perguruan tinggi/sekolah seni. Sehingga dengan sedikit ‘beringas’ Radhar Panca Dahana menyebutkan kondisi ini, “…sungguh berada pada titik nadir. Pada titik di mana seni ini berhenti, tak memperlihatkan tanda kemajuan, jumud, gelap (persembunyian dari invaliditas artistik), nirinovasi dan miskin kreasi….”(Kompas, 11/12/2005), serta superlatif negatif lainnya.
Tak pula pada tempatnya, mungkin, untuk sekedar melakukan sedikit ‘pembelaan’ atau toleransi terhadap yang partikular—jika masih ada dikotomi partikular-universal—dalam kondisi yang kian diperkeruh oleh arus dominan penulisan (kritik) teater yang telah teraneksasi pada satu kutub, sehingga ‘mustahil’ untuk menggiringnya ke kutub ‘yang lain’—yang justru lebih dulu ternegasikan oleh arus dominan itu—Meski saya yakin, di luar arus yang deras, mesti ada yang yang tersepelekan, teremehkan, dan dianggap sebagai unsur sekunder, tapi justru memiliki ‘kekuatan luar biasa’ yang ‘tak terpemenai’.

Tapi selalu ada saat yang tepat untuk membahas keterpesonaan ganjil atas totalitas seni pertunjukkan yang disebut-sebut mampu mengguncang; menjungkirbalikkan logika dan pemahaman, yang menteror mental, yang membuat terkerumuk, dan nyaris mengalami ekstase, sehingga tak mampu lagi membedakan siapa bertutur apa—pernyataan apa yang bisa diharapkan dari subjek yang nyaris lepas dari kesadarannya, sehingga ragu—atau tak tahu—apa yang telah membuat ia begitu terpesona, sebagaimana pernyataan dramatik Ratna Dewi (RD) akibat terpukaunya ia oleh monolog Putu Wijaya di GKJ—entah kapan—dalam tulisannya. Menulis Kritik Teater: Merayakan Pentas Kehidupan, (Jambi Ekspres, 3/2/2008). Tapi dengan serampangan membikin asumsi takes from granted berdasar apa yang ada dalam “rasa”nya—bukan kepala—saja).

Jika RD tidak menemukan relevansi yang holistik dari pernyataan saya beberapa minggu yang lalu, begitupun saya atas pernyataannya dalam tulisannya tersebut, yang tumpang tindih, yang tidak konsisten. Di satu waktu ia mengatakan begitu terpukau oleh Putu dan menganggap segenap pertunjukkan itu adalah pesan/gagasan, dan Putu adalah gagasan itu sendiri. Namun, dalam waktu bersamaan, ia juga menafikan teknik dan hubungan antarunsur dalam membangun “pesan verbal” pada pementasan itu; teknik ditolak, tapi diam-diam, pada saat yang sama justru diterima.

Ada kehendak menunggalkan makna yang tak diketahui asalnya di tengah subjektifitas, adalah kata yang tepat untuk menafsirkan perkara RD ini. Ketika melihat ayam saya ditubruk mobil, saya juga akan terkerumuk—meminjam bahasa Dewi—dan merasa logika saya telah dijungkirbalikkan dan diteror oleh drama satu babak “ayam ditabrak mobil” ini. Kemudian saya (juga bisa) berbisik—sambil tersedu—kepada seorang tetangga “inilah yang sebenar-benar teater,” kata saya. Bagaimana tidak, di dalamnya terdapat ragam unsur dalam teater, dan jelas mengandung sebuah hikmah—mungkin esok ayam saya akan diganti oleh Sang Sutradara dengan kambing, misalnya. Lantas apa yang membuat saya tetap terkerumuk? Tidak seperti RD yang menganggap seluruh peristiwa/pementasan itu yang membuatnya terkerumuk, saya mahfum—alih-alih menangisi ayam yang akan diganti dengan kambing—ternyata cara atau teknik (bukan hikmah!) Tuhan menyampaikan pesan itulah yang membuat saya (juga) terkerumuk

Dan teknik tidak melulu sesuatu yang mekanistik apalagi kaku. Teknik yang saya maksudkan bukan teknologi yang cenderung mendehumanisasikan kemanusiaan, membentuk watak dan tipikal mekanistis serupa mesin. Saya yakin, seni memerlukan teknik untuk mencapai tingkatan-tingkatan estetisnya. Sebab, jelas, seni tidak lahir dari hubungan serampangan berbagai unsur. Hubungan mereka adalah hubungan logis yang tak terelakkan; bahwa sesuatu tidak dapat dipahami, kecuali terkait sebagai sebab atau akibat dari hubungannya dengan yang lain. Hubungan-hubungan itu kemudian mengakhiri alurnya dalam sebuah struktur pemaknaan yang untuk sementara ini kita sebut sebagai estetika atau keindahan. Tapi tidak bagi RD, ia menampik kesementaraan. Ia merasa perlu segera menemukan makna verbal dari setiap karya seni, yang dianggapnya sebagai pesan, bukan pertanyaan.

Makna terkadang bukan sesuatu yang utuh apalagi tunggal, seperti dalam paham kebanyakan. Dalam banyak hal—khususnya karya seni—makna kadang berupa serpihan, residu, yang silang sengkalut, yang saling berbenturan, yang terkadang menyelip dan menyalip dalam peristiwa-peristiwa atau alur-alur sepele. Masing-masing bagian, masing-masing unsur membentuk konfigurasi maknanya sendiri-sendiri. Sehingga banyak tafsir yang dapat ditakik dari sana. Dan, beginilah jadinya, tak kan pernah ada makna tunggal dalam sebuah karya seni, seperti yang dielu-elukan oleh kaum strukturalis selama ini, termasuk juga, mungkin RD.

Namun, ketika saya mencoba mengurai hubungan-hubungan itu, mengurai sruktur dan menjadikannya residu untuk mencari “kebenaran lain”, kecurigaan muncul sambil menudingkan tunjukknya, dan mengatakan saya menegasikan pesan verbal dari akhir sebuah peristiwa. Mungkin kita perlu sedikit bertanya kepada sutradara, apa benar cuma ‘pesan’ yang ingin disampaikan oleh sutradara setelah melewati proses berbulan-bulan? Atau kepada aktor, apa benar ia telah merubah dirinya sebagai tukang kutbah dengan memberi segala macam petuah lewat karakter yang diperankannya? Saya pikir tidak itu benar yang mereka maksudkan.

Dalam teater, demikian Afrizal Malna mengatakan, ada dua hal secara institusional yang telah diubahnya. Inilah terutama yang menarik pada teater. Pertama, teater telah mengubah teks dari yang tertulis dan dibaca, menjadi teks yang dinyatakan dan yang diperankan. Kedua, teater mengubah pembaca menjadi penonton. Lantas, jika masih juga ngotot, mengharapkan pesan verbal atau gagasan moral tentang kehidupan dan lain-lain sebagainya, mengapa tidak membaca naskah itu saja, tanpa susah-susah datang ke gedung teater. Atau membaca leaflet kutbah Jum’at. Atau, menonton aksi teatrikal anggota dewan yang terhormat pada saat berorasi membela hak-hak ‘kita’, misalnya.
II

Pada mulanya adalah kedele, bukan tempe
Dari kacamata mana kita dapat menyamakan coretan gambar pemandangan anak SD—yang notabene minim pengetahuan atas teknik gambar menggambar—dengan lukisan pemandangan yang digoreskan almarhum Wakidi—sesepuh naturalis itu—yang so pasti telah menguasai serangkaian teknik, pengalaman, pemahaman, dan serangkaian try and error dalam mengulas kuas di atas medium gambar tersebut? Dus, siapa yang berani menyebutkan lukisan E.M Yogiswara selevel dengan lukisan saya, misalnya, yang memegang kuas saja kadang gemetar?
Bisa jadi, ketika saya melukis pemandangan alam—dalam ranah naturalis— pesan keindahan yang saya maksudkan tidak sampai, sebab banyak cat yang meluber keluar dari marjin. Atau, gambar matahari yang saya maksudkan ternyata berbentuk kepala kuda, misalnya. Namun begitu, saya, Wakidi, dan Yogiswara adalah sama-sama pelukis. Tapi beda saya dengan Yogiswara adalah; ia lebih menguasai teknik melukis, sehingga capaian estetisnya lebih jauh daripada saya yang tak tahu apa-apa tentang teknik melukis. Pun saya dengan Wakidi.

Tapi, mungkin begitulah sejatinya seni. Ada kehendak untuk mengkotak-kotaknya, ada kehendak untuk menggarisbawahinya, menjaga agar tidak luber ke mana-mana, namun selalu ada usaha untuk menerabasnya, selalu ada usaha untuk menembusnya, sejalan dengan pergerakan zaman yang meniadakan batasan ataupun pusat-pusat otoritas yang kerap mengekang kreatifitas. Namun, “semua harus dicatat, semua dapat tempat,” kata Cahiril Anwar.
III

Perlu benarkah mengidentifikasi sesuatu yang tak terkatakan dari sebuah pengalaman artistik?

Saya merasa telah terlalu jauh membahas suatu persoalan dalam tulisan sebelumnya Seharusnya saya menempatkan diri sebagai penonton yang baik ketika menikmati teater. Menyiapkan sapu tangan atau tissue—untuk menguras airmata—sekiranya ada adegan yang menyedihkan. Atau pergi dengan teman yang saya tahu pasti namanya—agar tak salah pukul atau salah bicara—ketika saya harus marah, tertawa, terkekeh ketika ada adegan menjemukan, lucu atau ironis.

Seharusnya saya tetap jadi penonton yang baik, tanpa pernah mau tahu bagaimana aktor tersebut mampu membuat saya menangis, bagaimana aktor mampu membuat saya tertawa, marah, kecewa. Atau, bagaimana tim artistik menata panggung, kostum pemain, bagaimana susahnya sutradara mengarahkan pemeranan, observasi, pendalaman karakter yang terkadang butuh waktu berbulan-bulan.

Saya tidak peduli. Saya hanya akan terus menstimulasi hasrat saya—hasrat phallogocentric; hasrat yang sarat nostalgia, namun tak mungkin terpenuhi—dengan harapan mencapai orgasme, tanpa perlu tahu saraf-saraf dan impuls apa yang bergerak dalam tubuh dan pikir saya. Dan setelah itu pulang—atau tertidur—sambil mengatakan, “puas, puas!!”

Tapi, sayang, saya kadung tahu. Bahwa, sungguh tak ada yang benar-benar selesai dari sebuah kejadian. Selalu ada yang terbengkalai. Dan selalu ada makna yang ambigu, yang akan mengundang sejuta tafsir.

Akhirulkalam. Dari layanan pesan singkat di ponsel butut saya, ada bait-bait frasa yang tak puitis saya kirimkan kepada RD, begini bunyinya:
“kita masing-masing memiliki satu kamar yang terkunci. Dan kita tak pernah benar-benar ingin masuk ke dalam kamarku atau juga kamarmu. Kemudian kita saling bercerita tentang sebuah kamar yang juga selalu terkunci dengan palang besi pada pintunya. Di titik ini, saya merasa kita telah terlempar pada suatu tempat yang sangat jauh, dan senyap. Tanpa ada siapa-siapa, kecuali kita.”

* * *

Nurul Fahmy,

Esai ini merupakan polemik antara

saya dengan Ratna Dewi di Jambi ekspres,

beberapa waktu silam

Februari 7, 2008 Ditulis oleh nurulfahmy | essai | | & Komentar