essai budaya
pada mulanya adalah kedele, bukan tempe
Oleh Nurul Fahmy
I
Tak pantas, mungkin,—karena juga bukan kapasitas saya—membicarakan standarisasi-standarisasi teater dalam centang perenang dunia perteateran di Indonesia yang dalam catatan Afrizal Malna lebih dari 80 persen kelompok-kelompok teater yang ada di ini negeri (mungkin) tidak pernah mendapatkan pendidikan teater. Namun, oleh semangat yang meletup-letup untuk tetap juga berteater, kelompok-kelompok itu kemudian tumbuh sebagai kelompok eksperimental non pendidikan formal atau pseudo-eksperimental, sebagaimana laiknya mahasiswa/siswa jurusan teater di perguruan tinggi/sekolah seni. Sehingga dengan sedikit ‘beringas’ Radhar Panca Dahana menyebutkan kondisi ini, “…sungguh berada pada titik nadir. Pada titik di mana seni ini berhenti, tak memperlihatkan tanda kemajuan, jumud, gelap (persembunyian dari invaliditas artistik), nirinovasi dan miskin kreasi….”(Kompas, 11/12/2005), serta superlatif negatif lainnya.
Tak pula pada tempatnya, mungkin, untuk sekedar melakukan sedikit ‘pembelaan’ atau toleransi terhadap yang partikular—jika masih ada dikotomi partikular-universal—dalam kondisi yang kian diperkeruh oleh arus dominan penulisan (kritik) teater yang telah teraneksasi pada satu kutub, sehingga ‘mustahil’ untuk menggiringnya ke kutub ‘yang lain’—yang justru lebih dulu ternegasikan oleh arus dominan itu—Meski saya yakin, di luar arus yang deras, mesti ada yang yang tersepelekan, teremehkan, dan dianggap sebagai unsur sekunder, tapi justru memiliki ‘kekuatan luar biasa’ yang ‘tak terpemenai’.
Tapi selalu ada saat yang tepat untuk membahas keterpesonaan ganjil atas totalitas seni pertunjukkan yang disebut-sebut mampu mengguncang; menjungkirbalikkan logika dan pemahaman, yang menteror mental, yang membuat terkerumuk, dan nyaris mengalami ekstase, sehingga tak mampu lagi membedakan siapa bertutur apa—pernyataan apa yang bisa diharapkan dari subjek yang nyaris lepas dari kesadarannya, sehingga ragu—atau tak tahu—apa yang telah membuat ia begitu terpesona, sebagaimana pernyataan dramatik Ratna Dewi (RD) akibat terpukaunya ia oleh monolog Putu Wijaya di GKJ—entah kapan—dalam tulisannya. Menulis Kritik Teater: Merayakan Pentas Kehidupan, (Jambi Ekspres, 3/2/2008). Tapi dengan serampangan membikin asumsi takes from granted berdasar apa yang ada dalam “rasa”nya—bukan kepala—saja).
Jika RD tidak menemukan relevansi yang holistik dari pernyataan saya beberapa minggu yang lalu, begitupun saya atas pernyataannya dalam tulisannya tersebut, yang tumpang tindih, yang tidak konsisten. Di satu waktu ia mengatakan begitu terpukau oleh Putu dan menganggap segenap pertunjukkan itu adalah pesan/gagasan, dan Putu adalah gagasan itu sendiri. Namun, dalam waktu bersamaan, ia juga menafikan teknik dan hubungan antarunsur dalam membangun “pesan verbal” pada pementasan itu; teknik ditolak, tapi diam-diam, pada saat yang sama justru diterima.
Ada kehendak menunggalkan makna yang tak diketahui asalnya di tengah subjektifitas, adalah kata yang tepat untuk menafsirkan perkara RD ini. Ketika melihat ayam saya ditubruk mobil, saya juga akan terkerumuk—meminjam bahasa Dewi—dan merasa logika saya telah dijungkirbalikkan dan diteror oleh drama satu babak “ayam ditabrak mobil” ini. Kemudian saya (juga bisa) berbisik—sambil tersedu—kepada seorang tetangga “inilah yang sebenar-benar teater,” kata saya. Bagaimana tidak, di dalamnya terdapat ragam unsur dalam teater, dan jelas mengandung sebuah hikmah—mungkin esok ayam saya akan diganti oleh Sang Sutradara dengan kambing, misalnya. Lantas apa yang membuat saya tetap terkerumuk? Tidak seperti RD yang menganggap seluruh peristiwa/pementasan itu yang membuatnya terkerumuk, saya mahfum—alih-alih menangisi ayam yang akan diganti dengan kambing—ternyata cara atau teknik (bukan hikmah!) Tuhan menyampaikan pesan itulah yang membuat saya (juga) terkerumuk
Dan teknik tidak melulu sesuatu yang mekanistik apalagi kaku. Teknik yang saya maksudkan bukan teknologi yang cenderung mendehumanisasikan kemanusiaan, membentuk watak dan tipikal mekanistis serupa mesin. Saya yakin, seni memerlukan teknik untuk mencapai tingkatan-tingkatan estetisnya. Sebab, jelas, seni tidak lahir dari hubungan serampangan berbagai unsur. Hubungan mereka adalah hubungan logis yang tak terelakkan; bahwa sesuatu tidak dapat dipahami, kecuali terkait sebagai sebab atau akibat dari hubungannya dengan yang lain. Hubungan-hubungan itu kemudian mengakhiri alurnya dalam sebuah struktur pemaknaan yang untuk sementara ini kita sebut sebagai estetika atau keindahan. Tapi tidak bagi RD, ia menampik kesementaraan. Ia merasa perlu segera menemukan makna verbal dari setiap karya seni, yang dianggapnya sebagai pesan, bukan pertanyaan.
Makna terkadang bukan sesuatu yang utuh apalagi tunggal, seperti dalam paham kebanyakan. Dalam banyak hal—khususnya karya seni—makna kadang berupa serpihan, residu, yang silang sengkalut, yang saling berbenturan, yang terkadang menyelip dan menyalip dalam peristiwa-peristiwa atau alur-alur sepele. Masing-masing bagian, masing-masing unsur membentuk konfigurasi maknanya sendiri-sendiri. Sehingga banyak tafsir yang dapat ditakik dari sana. Dan, beginilah jadinya, tak kan pernah ada makna tunggal dalam sebuah karya seni, seperti yang dielu-elukan oleh kaum strukturalis selama ini, termasuk juga, mungkin RD.
Namun, ketika saya mencoba mengurai hubungan-hubungan itu, mengurai sruktur dan menjadikannya residu untuk mencari “kebenaran lain”, kecurigaan muncul sambil menudingkan tunjukknya, dan mengatakan saya menegasikan pesan verbal dari akhir sebuah peristiwa. Mungkin kita perlu sedikit bertanya kepada sutradara, apa benar cuma ‘pesan’ yang ingin disampaikan oleh sutradara setelah melewati proses berbulan-bulan? Atau kepada aktor, apa benar ia telah merubah dirinya sebagai tukang kutbah dengan memberi segala macam petuah lewat karakter yang diperankannya? Saya pikir tidak itu benar yang mereka maksudkan.
Dalam teater, demikian Afrizal Malna mengatakan, ada dua hal secara institusional yang telah diubahnya. Inilah terutama yang menarik pada teater. Pertama, teater telah mengubah teks dari yang tertulis dan dibaca, menjadi teks yang dinyatakan dan yang diperankan. Kedua, teater mengubah pembaca menjadi penonton. Lantas, jika masih juga ngotot, mengharapkan pesan verbal atau gagasan moral tentang kehidupan dan lain-lain sebagainya, mengapa tidak membaca naskah itu saja, tanpa susah-susah datang ke gedung teater. Atau membaca leaflet kutbah Jum’at. Atau, menonton aksi teatrikal anggota dewan yang terhormat pada saat berorasi membela hak-hak ‘kita’, misalnya.
II
Pada mulanya adalah kedele, bukan tempe
Dari kacamata mana kita dapat menyamakan coretan gambar pemandangan anak SD—yang notabene minim pengetahuan atas teknik gambar menggambar—dengan lukisan pemandangan yang digoreskan almarhum Wakidi—sesepuh naturalis itu—yang so pasti telah menguasai serangkaian teknik, pengalaman, pemahaman, dan serangkaian try and error dalam mengulas kuas di atas medium gambar tersebut? Dus, siapa yang berani menyebutkan lukisan E.M Yogiswara selevel dengan lukisan saya, misalnya, yang memegang kuas saja kadang gemetar?
Bisa jadi, ketika saya melukis pemandangan alam—dalam ranah naturalis— pesan keindahan yang saya maksudkan tidak sampai, sebab banyak cat yang meluber keluar dari marjin. Atau, gambar matahari yang saya maksudkan ternyata berbentuk kepala kuda, misalnya. Namun begitu, saya, Wakidi, dan Yogiswara adalah sama-sama pelukis. Tapi beda saya dengan Yogiswara adalah; ia lebih menguasai teknik melukis, sehingga capaian estetisnya lebih jauh daripada saya yang tak tahu apa-apa tentang teknik melukis. Pun saya dengan Wakidi.
Tapi, mungkin begitulah sejatinya seni. Ada kehendak untuk mengkotak-kotaknya, ada kehendak untuk menggarisbawahinya, menjaga agar tidak luber ke mana-mana, namun selalu ada usaha untuk menerabasnya, selalu ada usaha untuk menembusnya, sejalan dengan pergerakan zaman yang meniadakan batasan ataupun pusat-pusat otoritas yang kerap mengekang kreatifitas. Namun, “semua harus dicatat, semua dapat tempat,” kata Cahiril Anwar.
III
Perlu benarkah mengidentifikasi sesuatu yang tak terkatakan dari sebuah pengalaman artistik?
Saya merasa telah terlalu jauh membahas suatu persoalan dalam tulisan sebelumnya Seharusnya saya menempatkan diri sebagai penonton yang baik ketika menikmati teater. Menyiapkan sapu tangan atau tissue—untuk menguras airmata—sekiranya ada adegan yang menyedihkan. Atau pergi dengan teman yang saya tahu pasti namanya—agar tak salah pukul atau salah bicara—ketika saya harus marah, tertawa, terkekeh ketika ada adegan menjemukan, lucu atau ironis.
Seharusnya saya tetap jadi penonton yang baik, tanpa pernah mau tahu bagaimana aktor tersebut mampu membuat saya menangis, bagaimana aktor mampu membuat saya tertawa, marah, kecewa. Atau, bagaimana tim artistik menata panggung, kostum pemain, bagaimana susahnya sutradara mengarahkan pemeranan, observasi, pendalaman karakter yang terkadang butuh waktu berbulan-bulan.
Saya tidak peduli. Saya hanya akan terus menstimulasi hasrat saya—hasrat phallogocentric; hasrat yang sarat nostalgia, namun tak mungkin terpenuhi—dengan harapan mencapai orgasme, tanpa perlu tahu saraf-saraf dan impuls apa yang bergerak dalam tubuh dan pikir saya. Dan setelah itu pulang—atau tertidur—sambil mengatakan, “puas, puas!!”
Tapi, sayang, saya kadung tahu. Bahwa, sungguh tak ada yang benar-benar selesai dari sebuah kejadian. Selalu ada yang terbengkalai. Dan selalu ada makna yang ambigu, yang akan mengundang sejuta tafsir.
Akhirulkalam. Dari layanan pesan singkat di ponsel butut saya, ada bait-bait frasa yang tak puitis saya kirimkan kepada RD, begini bunyinya:
“kita masing-masing memiliki satu kamar yang terkunci. Dan kita tak pernah benar-benar ingin masuk ke dalam kamarku atau juga kamarmu. Kemudian kita saling bercerita tentang sebuah kamar yang juga selalu terkunci dengan palang besi pada pintunya. Di titik ini, saya merasa kita telah terlempar pada suatu tempat yang sangat jauh, dan senyap. Tanpa ada siapa-siapa, kecuali kita.”
* * *
Nurul Fahmy,
Esai ini merupakan polemik antara
saya dengan Ratna Dewi di Jambi ekspres,
beberapa waktu silam
-
Arsip
- September 2008 (1)
- Mei 2008 (1)
- April 2008 (1)
- Februari 2008 (4)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS