cerita pendek
Kalau Dia Keluar,
Saya Menyalakan Cerutu
Cerpen Nurul Fahmy
Tak begitu lama bagi mereka untuk menanti sebatang cerutu dinyalakan, hanya sesaat saja dibandingkan dengan 16 bulan pengejaran panjang. Dan. Ting! Dess! Dess! Dua butir peluru melesat di keremangan lampu. Sebutir mengenai bahu kiri, sebutir lagi menghantam jambangan di lobi. Ia merintih kesakitan. Sekonyong-konyong ia mencabut revolver dari balik bajunya. Namun, dess! Lagi, sebutir peluru melesat di antara jerit orang-orang yang kalang-kabutan. Mengenai punggung dan menembus jantung.
“Kami akan menonton di Metropole, tapi belum jelas benar. Kalian bersiaga saja. Kami bertiga, dua wanita dan satu laki-laki. Aku mengenakan gaun merah,” bisikku di telpon kepada komandan polisi di seberang sana. Namun ia telah terbiasa menyebarkan bayangan sebanyak mungkin di penjuru kota ketika sedang berjalan dan menghapusnya sebelum menghilang bagai kelebatan kucing hitam dalam kegelapan.
“Siapa yang percaya tembok, lemari, tong sampah, lorong gelap dan pesawat televisi, apalagi kesiur angin yang berhembus dingin di Metropolis ini,” katanya.
Dalam perjalanan ke Metropole itulah ia membanting stir mobil, menikung ke arah kiri. Ban berderit, mencicit karenanya. Dan lantas berkata, “Bagaimana kalau kita ke Biograph, filmnya bagus. Kisah seorang anggota gangster yang dihukum mati di kursi listrik.”
Ini konyol. Seharusnya aku tak perlu ikut serta dalam mobil itu. Aku cukup menguntit mereka dengan taksi dan menelpon polisi ketika aku benar-benar yakin bahwa mereka telah sampai pada suatu tujuan. Dengan cara itu aku akan lebih aman. Sekarang mampuslah aku terperangkap dalam lubang yang kubuat sendiri.
Mobil terus melaju membelah malam di kawasan paling hingar di Metropolis ini dan berbelok ke Biograph. Aku semakin kecut. Tubuhku menciut. Jangan-jangan tindakanku menghubungi polisi pagi tadi telah tercium olehnya. Oh, God. Laki-laki ini tak akan memberiku ampun. Sebutir peluru dari revolver di balik bajunya itu sudah cukup untuk mengantarkan nyawaku yang ringkih ini ke akhirat. Dan itu bukanlah perkara sulit baginya.
Tahukah, saat itu aku diperhadapkan pada buah simalakama yang kupetik sendiri. Mau apa lagi. Maju kena, mundur pun aku tak bisa. Sungguh, tanganku berkeringat. Peluh dingin terbit dari seluruh lubang pori-pori di keningku. Bagaimana cara memberi tahu polisi bahwa kami tidak jadi ke Metropole, melainkan ke Biograph. Minta berhenti dan menelepon polisi, sama dengan menyorongkan tubuhku ke tengah jalan pada saat lalu lintas sedang ramai. Tubuhku kian gemetar. Dari balik kaca, aku memandang kota yang bermandikan cahaya lampu yang bagai kilatan mata api. Sesekali aku meliriknya yang lagi menyetir, dan Bettie.
***
Mulanya aku menganggap itu adalah lelucon pria untuk mengambil hati teman kekasihnya, dengan mengaku-ngaku sebagai penjahat paling ulung. Bukan mustahil, carut perekonomian yang kian semrawut kadang membuat masyarakat bertingkah aneh. Lebih dari 13 juta imigran bergentayangan di sesudut kota, hingga meluber ke jalan-jalan. Kilau belati yang mematikan tiba-tiba akan disorongkan ke lehermu. Dan sejulur tangan akan menarik paksa barang-barang berharga yang kau bawa ketika melintasi lorong-lorong manapun di kawasan ini. Namun begitu, ada saja lelucon konyol tentang penjahat; sebagian anak muda mengidolakan perampok bertopeng, sebagian lagi meniru-niru kostum yang digunakan oleh mereka. Dari selebaran di dinding kota dan surat kabar, aku mengetahui: Siapa bisa menangkapnya, polisi telah menyediakan uang 100.juta, dan separuhnya bagi yang menunjukkan keberadaannya. Tak mampu menangkapnya, 50 juta cukuplah bagiku uang sebesar itu.
Sore sebelum kami berangkat ke Biograph—atau Metropole, seperti rencana awal—Bettie memamerkan gaun hitam pemberian kekasihnya itu, “Cantikkah aku dengan dengan gaun ini, Ann? Aku ingin selalu terlihat cantik di matanya. Kau tahu, aku mencintainya. Kami akan mempunyai anak dan segera menikah, dan kami akan tinggal di Jakarta. Kau harus menghadiri pernikahan kami, Ann.” Kata Bettie berbunga-bunga. Perutnya terlihat buncit. Ia hamil.
Astaga!!
**
Garong paling ulung, paling berbahaya dan paling dicari oleh polisi itu lahir dari hubungan ganjil pria kulit putih yang dikutuk keluarga dengan perempuan lacur berkulit coklat. Setelah gagal menggugat warisan dan dinyatakan kalah oleh pengadilan, pria itu menyendiri di pinggiran kota. Tak lama pemabuk itu ditemukan mengapung di bak mandi setelah menenggak segelas Vodka yang dicampur serbuk Arsenik.
Anak yang lahir dari hubungan ganjil itu tumbuh jadi mahluk serampangan, dan suka membenamkan diri dalam perpustakaan, membaca berbab-bab kitab, dan buku-buku hukum dan sejarah. Pada usia 14 tahun untuk pertama kalinya ia berurusan dengan polisi, dan diajukan ke pengadilan karena mencuri berpeti-peti Whisky dari sebuah gudang di perkebunan. Dan pergi ke sekolah dalam keadaan teler.
Setahun kemudian—setelah dibebaskan ia masuk perkumpulan gereja, dan menyatakan ingin menjadi pendeta—ia mencuri lagi. Dan diam-diam menghukum anak seorang jaksa yang menghinanya sebagai pria dungu tak punya nama keluarga. Tak ayal bocah nyinyir itu dibetotnya ke sebuah mesin penggergaji kayu yang sedang menyalak garang. Anak itu meraung ketakutan. Sambil menyemburkan serapah dari mulutnya, ia tertawa terkekeh-kekeh. Dan baru menekan tombol off, ketika beberapa sentimeter lagi mata-mata gergaji siap melumat-lumat tubuh anak malang itu. Ia baru melepaskannya setelah anak itu berjanji akan mencium pantatnya. Pada usia 15 tahun ia membuat seorang perempuan berang, karena mengangkangi seorang gadis berambut pirang.
Atas perbuatannya, setan kecil yang suka mengayunkan pentungan kasti itu di hukum 15 tahun kurungan. Dalam bui, ia bersekutu dengan beberapa gembong perampok kawakan, dan mendapat semacam pendidikan gratis tentang seluk-beluk dunia gangster, merancang program, dan merencanakan pelarian bersama-sama. Namun tak perlu baginya bersusah payah untuk kabur. Atas permintaan beberapa warga terhormat ia dibebaskan dengan syarat.
“Ia hanya terpengaruh, sebenarnya ia adalah anak yang baik,” ucap beberapa warga lugu.
Untuk merayakan pembebasannya, pada hari Minggu gereja memberi tema kebaktian “Kembalinya Si Anak Hilang”. Dalam pada itu, ia merubah wujudnya sebagai malaikat, dan mengatakan kepada para jemaat bahwa ia sangat menyesal. Dengan berlinang air mata para jemaat yang tertipu saling berpelukan dengannya. Setelah itu ia bergegas pergi. Entah kemana.
Tak perlu lama baginya untuk memberikan kejutan. Dua minggu setelah dibebaskan, polisi dibuat kelabakan oleh serangkaian ulah yang dilakukannya. Bersama kawanannya, ia merangsek sebuah pabrik roti di pinggiran kota. Mulanya mereka berpura-pura mencari kerja. Namun pemilik pabrik curiga, karena hari itu adalah hari pembayaran gaji. Dan tentu saja karena dalam laci mejanya terdapat sejumlah uang. Pemilik pabrik meraih senapan di laci. Namun ia mendahului. Pistol meletup dan melukai pemilik pabrik.
Pekan itu petualangannya baru saja dimulai. Pagi mereka mengupak sebuah toko obat, siangnya giliran sebuah bank nasional disantroni, dan sore hari ia mengagetkan orang-orang yang sedang belanja di sebuah swalayan. “Hallo, manis, ini adalah perampokan,” sapanya kocak kepada kasir.
Tak kurang dari 16 bulan ia dan kawanannya telah membuat repot polisi di seluruh negara bagian. Bagai buldozer, ia menggiling apa dan menggilas siapa saja. Malam-malam di Metropolis dan sekitarnya berubah menjadi kawasan hantu. Jika sore meruap, orang bergegas menutup jendela dan memasaknya dengan palang pintu. Brankas bank dan swalayan digerendel dan mereka telah menambah jumlah gembok, menutup tirai dan mengunci pintu. Orang-orang pulang dengan langkah yang besar-besar. Mereka tak ingin jika tiba-tiba saja harus berjumpa dengannya atau kawanannya.
Mesin kemudian mencetak wajahnya, dan disebar ke seluruh negara bagian. Surat kabar-surat kabar menuliskannya dengan huruf kapital dan memberi julukan aneh kepadanya: “Si Kulit Terbakar”. Spion dan mata-mata di tempatkan di setiap sudut kota. Jalan kecil, lorong gelap, bar, diskotik, perumahan kumuh, apartemen mewah tak luput dari pengintaian mereka. Namun ia dan kawanannya bagai hantu. Muncul secara tiba-tiba, dan menghilang tiba-tiba pula. Sebagian polisi mengatakan, ia bagai belut.
Polisi nyaris patah hati, ketika pada suatu hari telpon di kantor berdering. Seorang perempuan peragu melaporkan bahwa mereka akan menuju Metropole. Namun seorang agen terpercaya mengatakan, ia baru saja melihat kelebat bayangannya dalam sebuah mobil yang melesat bagai setan di Biograph. Polisi bertindak cepat, satuan khusus dikerahkan untuk menjaring dan memukulnya. Mereka mengepung kawasan Biograph. Sebagian menyamar sebagai pengunjung, sebagian lagi berlagak sebagai pemabuk yang bingung. Pada saat itulah sebuah sandi dibuat sebagai isyarat untuk melumpuhkannya, “Kalau dia keluar, saya menyalakan cerutu.”
**
Malam baru saja menapaki bangunan dan gedung-gedung bertingkat yang kumuh di Metropolis, ketika gerimis mulai menampar jendela, ketika seorang laki-laki berlari masuk ke dalam Royal Bar ini. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, berkulit coklat terbakar dan berambut legam. Matanya tajam dan liar. Ada seulas kumis di bawah hidungnya. Namun ada awan kelabu menggayut di wajah itu.
Sebagai pelayan bar yang baik aku menawarkannya minuman. Barangkali saja bisa merontokkan awan kelabu itu. Sekaligus penawar dingin setelah berlarian dalam gerimis. Ia kemudian minum bagai onta di padang pasir. Semalaman ia mabuk dan menceracau kian kemari. Aku membimbingnya ke mobil pada saat bar sudah tutup. Esoknya ia datang lagi. Kami pun akrab dan terlibat asmara.
Berminggu-minggu setelah itu, sambil meneguk bergelas-gelas Whisky ia mengatakan akan mengajakku tinggal di Jakarta. Daerah mana pula itu? Aku pun tak tahu. Tapi entahlah, aku menurut saja apa katanya. Aku telah membayangkan, kami akan tinggal di sebuah rumah. Aku melahirkan seorang bayi yang lucu. Dan setelah itu kami akan menikah di Jakarta. Oh, Jakarta. Tunggulah kami, seruku.
Begitulah, malam itu kami nonton film di Metropole. Ia mengajak serta temanku bersama kami. Selama perjalanan kami membisu. Dari balik kaca, aku memandang kota yang bermandikan cahaya lampu yang berwarna-warni. Tiba-tiba ia membanting stir mobil, dan menikung ke kiri. Ban mobil berderit, mencicit karenanya. Ia mengatakan akan ke Biograph.
Lobi Biograph yang remang telah dipenuhi oleh orang-orang yang ingin menonton. Tapi sedari turun dari mobil aku merasa ada sesuatu yang ganjil. Aku merasa kami sedang diamat-amati oleh beberapa pasang mata. Aku melirik padanya, tapi ia terlihat tenang. Aku pun mencoba bersikap tenang. Meski sedikit ada khawatir dalam hatiku.
Kami keluar pada saat film telah benar-benar usai. Ia berjalan di depan duluan. Sampai di lobi itulah aku melihat seseorang yang berdiri di balik tiang menyalakan cerutu dengan Zippo. Terdengar dua letupan senjata. Ia merintih. Tak lama terdengar lagi sebuah letupan. Dan tubuhnya terkapar bersimbah darah. Aku menjerit. Meraung. Mendekap tubuhnya yang tak berdaya.
**
Di Biograph ia seperti tidak mencium gelagat busuk. Sampai pada saat dua peluru meletup dan sebutir bersarang di bahu kirinya, ia tetap tak menunjukkan kecurigaan apapun pada Anna. Namun, ketika ia telah terkapar dan polisi telah mengucapkan terima kasih kepada Anna, sebuah pukulan keras tiba di wajahnya. Sesaat pandangannya menjadi kabur, tapi ia masih dapat melihat Bettie yang sesengukan berdiri di depannya. Siap menyemburkan sejuta magma.
**
Thehok, November 2007
Judul diambil dari Jean-Marrie Pelaprat. Intisari, Juni 1980.
Belum ada komentar.
Tinggalkan komentar
-
Arsip
- September 2008 (1)
- Mei 2008 (1)
- April 2008 (1)
- Februari 2008 (4)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS