tak ada malam ketujuh, empat puluh,
apalagi seratus…
Cerpen: Nurul Fahmy
Di musim penghujan September lalu Dul Kesot meninggal dunia. Berita itu tersiar dari pesan singkat yang dikirim dari nomer ke nomer melalui telepon seluler. Seperti berlesatan, berloncatan, pesan-pesan itu sampai dalam waktu yang nyaris bersamaan dengan bunyi yang bermacam ke puluhan orang yang berada di penjuru kampung. Segera mereka mengetahui berita duka itu. Kemudian, sebagian dari orang-orang itu menyiarkannya pula ke puluhan nomer lain. Sangat cepat, sungguh singkat. Melampaui siar berita duka cara lama; bunyi kentongan, beduk dan suara azan yang berkumandang dari moncong pengeras suara di langgar.
Sesaat sepeninggal Dul Kesot, para pelayat berdatangan. Sungguh banyak. Maklum, selain kaya raya, Dul Kesot kesohor sebagai dermawan yang disegani. Setiap menjelang Lebaran, Dul Kesot rutin memberikan sumbangan kepada masyarakat; ratusan kantong plastik berisi tepung, gula, mentega, minyak goreng, kain sarung, dan kopiah disebar, dibagi-bagikan kepada setiap orang yang datang. Selain itu, Dul Kesot juga dekat dengan para pejabat. Jika saja tidak keburu meninggal dunia, Dul Kesot diyakini bakal menduduki kursi bupati pada pilkada tahun ini.
Meski ramai suasana tetap hikmat. Orang banyak tak ada yang bersuara keras. Sebagian orang bercerita pelan-pelan, menyebut-nyebut kedermawanan Dul Kesot. Sebagian lagi berbisik menanyakan penyebab kematiannya. Dari desas desus didapatkan berita; pagi itu tiba-tiba saja Dul Kesot mengeluh sesak napas, suhu badannya tinggi, tak lama ia menghembuskan napasnya yang terakhir. Kata desas desus itu pula, Dul Kesot kena serangan jantungnya oleh penyakit. Dari dalam rumah duka, sayup-sayup terdengar isak tangis di sela-sela tahlil dan doa.
Sementara pelayat terus berdatangan, para penggali kubur semakin giat mengayunkan cangkul dan linggis, menggali liang bagi jenazah Dul Kesot.
“Lokak makan besak kito, Jok. Nasi lemak.”
“Iyola, dak meleset lagi, Wak!”
“Kapan rencananyo Wak Dul ko nak dikuburi?”
“Dak tau jugo sayo, tapi mungkin siang ko la, habis Zuhur.”
“Apo dak nak nunggu Kulup lagi?”
“Ai, dak tau nian sayo, Wak. Sayo ko dak ngerti nian!”
Para penggali itu kemudian terus menggali lubang, berkubang tanah, bercampur peluh, serta bau ketiak yang menyengat. Sesekali diselingi senda gurau.
Kulup yang disebut-sebut barusan adalah anak Dul Kesot, pewaris harta kekayaan petani berdasi itu. “Budak lolo, baru besak, dak tau di hal,” setidaknya begitulah pikir orang-orang mengenai Kulup. Semua tahu, Kulup sudah lama sekali tidak pulang. Di saat remaja sebayanya asyik masyuk berhura-hura dengan segala fasilitas yang diberikan orang tua, Kulup malah terbang jauh, bahkan teramat jauh meninggalkan semuanya dalam waktu yang lama. Padahal pemilik kebun sawit ribuan hektar itu ingin agar Kulup tidak jauh-jauh darinya, supaya dapat segera meneruskan usaha yang telah dirintisnya. Tapi apa daya Dul Kesot, Kulup mangkir.
Bisnis Dul Kesot yang bermula dari penebangan dan penggergajian kayu gelondongan secara manual itu, perlahan-lahan tumbuh menjadi pabrik pengolahan kayu dengan peralatan canggih yang mempekerjakan ratusan anak buah. Selain memiliki bisnis penebangan dan pengolahan kayu, Dul Kesot juga merambah usaha pengerukan pasir dan batu kerikil di sepanjang sungai, serta jual beli hasil bumi untuk di ekspor ke beberapa negara tetangga.
Meski kemudian ribut-ribut soal ilegal logging, dan segenap perusahaan pengolah kayu tebangan liar di kota ini ditutup, bisnis Dul Kesot tetap berjalan dengan lancar, bahkan semakin menggurita. Dul Kesot pebisnis jempolan. Naluri bisnisnya luar biasa. Ia yakin, bisnis pembabatan hutan dan pengolahan kayunya tak akan bertahan lama. Maka, jauh sebelum orang-orang ribut soal hutan yang semakin gundul, longsor, banjir, pemanasan global, dan dampak lainnya, Dul Kesot telah membuat manuver cantik. Justru setelah puluhan ribu hektar hutan menjadi rawa, setelah sungai-sungai semakin melebar, setelah beberapa buah desa tenggelam dilamun longsor dan banjir, Dul Kesot telah lebih dulu mencuci tangan dengan menginvestasikan seluruh kekayaannya ke bidang usaha lain. Alhasil, selain perkebunan sawit yang terhampar luas sejauh mata memandang, beberapa POM bensin, dan gudang-gudang penumpukkan stok bahan pangan, ditenggarai jaringan bisnis Dul Kesot juga meliputi beberapa swalayan dan sekolah-sekolah di kota ini.
Demikianlah Kulup. Ia tak hendak meneruskan jaringan bisnis ayahnya itu. Ia ingin sekolah. Dul Kesot pasrah. Ia hanya dapat berharap, setelah dewasa dan tamat dari sekolah, Kulup pulang kampung dan menerapkan ilmunya dalam bisnis keluarga mereka itu. Namun Dul Kesot kecele. Bukan ekonomi atau manajemen bisnis yang dipelajari Kulup seperti harapnya, melainkan persoalan hukum, filsafat dan agama yang ditekuninya. Dan nyaris, setiap hari ia berkubang dengan buku-buku.
“Dak apola, sayo dulu jugo dak tamat sekolah dak,” ujar Dul Kesot. “Dalam bisnis tu,” lanjutnya, “yang penting naluri, sikok lagi iko dan iko,” katanya sambil menunjuk kepala dan menggesek-gesekkan jempol ke jari telunjuk tangannya. “Apo be yang dipelajarinyo, dak penting, asak dio mau ngurus bisnis ko, kageknya. Kerno, harto sayo ko tuk dio jugo la” Demikian Dul Kesot menghibur diri.
“Mudah-mudahan la, Wak.” Orang-orang mengamini.
Rinai panas mengiringi kerumunan orang yang berjejalan mengusung keranda Dul Kesot ke pekuburan. Bunyi tanah bergedebug, bergeseran menimpa papan penutup liang Dul Kesot. Genang air mata pecah, diiringi sedu sedan dan tabur bunga. Entah berapa lama, entah berapa saat, prosesi pemakaman akhirnya usai. Dengan berlinang air mata, Kulup—yang datang tepat pada saat keranda bergerak ke pekuburan—memohonkan kepada para hadirin, agar semua kesalahan dan khilaf almarhum ayahnya dimaafkan. Dan segenap hutang piutang yang bersangkutan dengan almarhum, mohon diurus kepada ahli waris. “Agar tak menjadi siksa bagi almarhum nantinya,” terang Kulup. Tak lupa ia meminta kepada para hadirin pelayat sekalian untuk memanjatkan tahlil dan doa-doa di rumah duka selama tiga malam berturut-turut.
“Hhhh, budak degil tu, akhirnyo sadar jugo.” Gumam orang-orang.
* * *
Hujan bulan September benar-benar menunjukkan perangainya. Meski begitu, genangan air di selokan, di jalan tanah berbatu dan berlumpur tak menyurutkan orang-orang untuk datang ke rumah almarhum Dul Kesot. Selesai shalat Maghrib, rumah itu penuh oleh tetamu. Bahkan beberapa pengunjung rela bersila di teras yang dialasi tikar, sebagian lagi berdiri di halaman.
Sudah sejak pagi tadi rumah almarhum Dul Kesot ramai oleh para ibu-ibu. Terlihat kesibukan luar biasa di dapur. Asap mengepul. Ada yang mengiris bawang, mengupas kentang, menggiling cabe, dan menanak nasi, hingga menjerang air. Belasan ekor ayam dibantai. Dua ekor kambing disembelih. Puluhan kilo ikan Patin disiang untuk tahlil malam ketiga itu.
Menjelang Ashar tadi, kursi-kursi dan meja-meja telah diangkut ke luar rumah dan diletakkan di gudang. Karpet dan permadani digelar sepenuh ruangan. Tenda-tenda dipasang di halaman. Jika ditambah umbul-umbul dan janur kelapa, sungguh, suasana tak ubahnya seperti ada kemantenan. Tidak seperti malam pertama dan kedua, malam ketiga ini para pendoa biasanya ramai berdatangan untuk memberikan doa-doa kepada almarhum. Pagi tadi Bidin telah menyebar undangan ke kampung-kampung. Maklum, seperti kebiasaan di sini, malam ketiga adalah puncak dari tahlilan. Dan biasanya, pada malam ketiga ini para pendoa disuguhi macam-macam hidangan. Nasi beserta lauk-pauknya ditambah oleh hidangan lain.
Cuaca agak sedikit mendung, sesekali terdengar guntur sahut menyahut, sepertinya hujan akan turun, sama seperti malam-malam sebelumnya.
“Heng kali heng, hong kali hong. Phuuaah,” canda Cecep, sambil menghembuskan napasnya kuat-kuat ke udara, meniru gaya pawang hujan. “Tenang be, tengah malam gek ujan baru datang,” sambungnya. Sementara yang lain cuma senyum-senyum, mengamati tingkah laki-laki setengah waras itu. Para pendoa semakin banyak berdatangan. Mereka terlihat gembira, sepertinya tahlil malam ini adalah acara kumpul-kumpul, saling lepas kangen. Sebagai lama tidak jumpa dengan para kerabat, mereka saling jabat tangan, bersalaman dan berangkulan.
Tahlil dimulai. Hawa dingin tidak mengurangi kekhusukan para pendoa untuk bertahlil. Terkadang goyangan tubuh dan kepala mereka terlihat begitu cepat, seirama lafal tahlil. Semakin keras. Semakin cepat. Para pendoa berlomba-lomba mendoakan agar semua amal dan pahala Dul Kesot diterima Tuhan di alam sana. Di teras dan halaman rumah, anak-anak, hingga pemuda tumplek blek dalam alunan tahlil. Tapi dasar anak-anak, ada-ada saja tingkah mereka. Sambil berdoa, terkadang mereka bercanda dengan sesamanya, saling cuil dan saling senyum. Namun, suara-suara canda mereka terhimpit oleh doa-doa orang banyak.
Jam telah menunjukkan pukul sembilan malam, doa-doa telah selesai dibacakan. Orang-orang menunggu dengan tenang. Sesekali terlihat juga mereka bersenda gurau, memantik koset, dan membakar rokok. Sebagai pembuka, diangsurlah gelas-gelas berisi air minum kepada para pendoa. Dengan semangat mereka mengeser-geser gelas itu kepada orang di sebelahnya. Apalagi anak-anak. Mereka terlihat bersemangat sekali mengoper-oper gelas itu kepada sesama temannya. Setelah itu keluarlah piring-piring kecil berisi kue-kue dan roti-roti kering.
Setelah semua kebagian, Kulup berdiri untuk mempersilahkan tamu-tamunya mencicipi hidangan. Tak lupa Kulup mengucapkan terima kasih kepada para pendoa. “Saya sangat berterima kasih sekali kepada kerabat, tetangga, bapak-bapak, teman, adik-adik dan anak-anak sekalian yang telah mendoakan arwah orang tua saya dengan tulus, iklash dan sangat antusias. Mudah-mudahan kiranya doa kita semua diterima dan didengar oleh Tuhan. Sebagai penutup kata, silahkan para tamu semua mencicipi hidangan yang telah tersedia. Sebelumnya saya mohon maaf, sengaja semua hidangan kami kirimkan ke panti-panti asuhan dan rumah-rumah jompo, karena saya yakin, mereka lebih membutuhkan daripada kita yang ada di sini. Sementara kita di sini cukuplah dengan roti dan segelas air saja, bagaimana bapak-bapak, setuju?” Kulup bertanya.
Terdengar suara-suara, gaduh, gerutu dan hembusan napas panjang. Belum lagi habis beberapa kerat roti dan segelas air minum, dari halaman terdengar orang mengucapkan salam dengan cukup keras, pertanda pamit pulang. “Assalammualaikum!” Satu persatu para pendoa itu meninggalkan rumah Dul Kesot. Dari sungut-sungut mereka aku mendengar gerutu, “pasti dak ado malam ketujuh, empat puluh, apolagi seratus!”
* * *
Oktober 2005 – Februari 2008
-
Arsip
- September 2008 (1)
- Mei 2008 (1)
- April 2008 (1)
- Februari 2008 (4)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS