tulisan
Dekonstruksi Hamlet
Oleh Nurul Fahmy
Ophelia dalam Lentera adalah sebuah dekonstruksi atas Hamlet. Naskah karya/sutradara Jaffar dan Cut Rossa Bulianti yang dipentaskan di Taman Budaya Jambi pada 14 Maret, 2008 oleh UKM Pertunjukkan STSI Padangpanjang itu adalah sebuah alur yang keluar, dan yang membongkar kemapanan wacana patriarki dalam Hamlet karya dramawan yang juga penyair sohor dari Inggris, William Shakespeare (1564-1616). Ophelia adalah trace (jejak) jejaring teks Hamlet yang selama ini terlanjur dipahami sebagai “wacana laki-laki” sejak berabad silam, menjadi sebuah teks “baru” yang lebih “perempuan” dengan sentuhan “feminisme” (liberal) yang kental.
Sebagai dekonstruksi, tak ayal, Ophelia dalam Lentera sarat dengan kerja bongkar dan pembalikkan. Ia membongkar mitos Hamlet (laki-laki) yang berabad tahun terlanjur menempatkan Ophelia (perempuan) dalam keremangan senja di bawah telapak kaki kekuasaannya. Sebab itu, memahami Hamlet dalam pementasan malam itu adalah memahami wacana perlawanan. Wacana yang menolak diskriminasi atas perempuan dalam hal apapun, termasuk cinta. Alih-alih menuntut balas atas kematian Polonius—ayah Ophelia yang dibunuh Hamlet—Cut Rossa justru mencerabut Ophelia dan Hamlet dari alur konvensional itu, dan memperlihatkan bahwa ia (Pangeran dari Denmark itu) adalah sosok yang layak dikutuk, sebab “berdosa” kepada Ophelia.
Seperti saya, mungkin juga beberapa penonton akan bertanya, perlu benarkah mendekonstruksi sesuatu yang jauh, dan asing? Sesuatu yang jelas bukan budaya kita. Bukan budaya Timur yang dengan kesadaran penuh menempatkan perempuan sejajar dengan pria, dalam hal apapun. Tapi, benarkah demikian, benarkah pernyataan terakhir itu? Jelas hal ini harus dibuktikan, setidaknya butuh tesis panjang untuk memperkuat asumsi ini. Sebab, dalam realitas keseharian dan sekeliling kita, khususnya pada level bawah, perempuan masih saja—disadari atau tidak—menjadi korban ketidakadilan gender, oleh mental patriaki yang tebal berdaki.
Namun begitu, Ophelia dalam Lentera bukan cerita dengan hilir mudik yang jelas. Ia cerita yang tidak memiliki pusat sendiri. Ia tergantung sepenuhnya pada Hamlet karya Shakespeare. Sebab, sebagaimana interteks, Ophelia tak akan dapat dipahami sepenuhnya jika tak mengerti konteks persoalan sebelumnya. Satu persoalan “usang” yang melintasi zaman dan kemudian mentok di tangan Cut Rossa—penulis naskah dan sekaligus sutradara—sebagai wujud ketidakadilan gender. Dalam vakum itu, (mungkin) lahirlah Ophelia dalam Lentera sebagai bentuk “percikan permenungan”—meminjam kata-kata Goenawan Mohamad yang mengutip puisi Roestam Effendi—sekaligus gugatan: Kenapa Ophelia mesti tak berdaya? Kenapa Ophelia harus dirudung siksa? Kenapa pula ia tidak berusaha untuk berontak dari cinta? Dan deretan kenapa lainnya.
Jika dalam Hamlet karya Shakespeare, Ophelia berakhir dengan kematian, namun bagi Cut Rossa, Ophelia adalah sosok yang hidup dalam dirinya, yang coba ‘anarki’ terhadap keadaan yang telah diciptakan oleh pengarang romantis dari abad ke-15 di Inggris itu. Bagi ‘Ophelia’ kini, tak zamannya lagi ia merudung tangis dan mengandung duka yang berkepanjangan. Sebab, “ia juga adalah darah, dendam dan cinta”. Sesuatu yang kompleks, yang sejatinya manusiawi, yang pasti juga dirasakan oleh perempuan, seperti Ophelia.
Demikianlah Hamlet, sebagai wacana ia tidak lagi teks utuh yang final dan baku. Ia sebuah lanskap retak yang berserak. Sebuah persoalan yang memunculkan persoalan lainnya. Sebuah persoalan yang kemudian melintasi ruang dan waktu. Sebuah teks yang mubah—atau wajib dalam cara pandang feminisme—diutak-atik, ditelanjangi, dibongkar, dibangun kembali, menjadi sebuah hypogram; intertekstualitas. Di dalamnya ada persoalan yang harus diurai selubung mitos yang melingkupinya. Dengan begitu, hypogram ini menanggungkan beban yang tidak ringan. Paling tidak, beban akan menjadi lebih berat ketika dihadapkan pada audiens dengan pakem konvensional. Jelas, mengurai, memahami Ophelia dalam Lentera dengan “kacamata lama”, tidak akan mampu menangkap sepenuhnya apa sebenarnya yang diinginkan Ophelia. Kenapa Ophelia menjadi sedemikian liar dan keras kepala pada malam itu?
Tak heran, jika kemudian pementasan sore dan malam itu banyak dipahami sebagai fragmen-fragmen atau puzle-puzle yang berserak. Sebab memang demikian, Ophelia dalam Lentera adalah sebuah fragmen tak utuh yang selama ini tersembunyi dan disembunyikan dalam pakem Hamlet yang “jantan”. Ophelia, dalam pementasan malam itu tentu tak akan kita temui dalam naskah asli Hamlet karya Shakespeare. Sebagaimana kita tak akan menjumpai “ibu yang durhaka” dalam legenda usang Malinkundang, atau takhyul tentang Imam Bonjol yang ‘hero’ dalam Tuanku Imam Bonjol naskah lakon karya Wisran Hadi, kecuali dalam cara pandang lain, dengan membongkar pakem teks tersebut.
Dalam kecenderungan semangat perlawanan gender mutakhir, Ophelia tidak sendirian. Jika naskah lakon, ia dapat disejajarkan—semangatnya—dengan karya-karya Ayu Utami Sidang Susila, atau Perempuan Menuntut Malam-nya Rieke Diah Pitaloka. Jika prosa, ia sebanding dengan Saman, dan Larung, atau Mereka Panggil Saya Monyet-nya Djenar Maesa Ayu. Jika puisi, birahinya meletup-letup seperti Kuda Ranjang Binhad Nurohmad. Atau sederet karya lainnya yang dengan semena-mena dituding penyair gaek, Taufik Ismail sebagai karya sindikat “Gerakan Syahwat Merdeka”, “Fiksi Alat Kelamin” atau lainnya, namun dengan gegap-gempita pula dibantah dan diserang oleh Hudan Hidayat, Marianna Aminudin, Beni Setia, Muhidin M Dahlan, serta lainnya, beberapa waktu lalu.
Jadi tak heran pula jika kemudian seorang bapak—yang juga sudah tua, dan sepertinya mempunyai kedudukan cukup penting dalam pemerintahan—merasa sedikit kebingungan dengan pertunjukkan malam itu. Ia merasa tak menemukan sebuah cerita yang utuh. Pementasan malam itu dianggap hanya bentuk pencarian/eksperimen sekelompok mahasiswa belaka. Ia nyaris tak menemukan apa-apa di sana, selain liukan erotis para aktor (Hamlet dan Ophelia) yang dikatakannya menerobos tabu dalam standar budaya dan agama (Islam). Namun, tentu saja statement ini akan terjerumus dalam sikap fundamental/konservatif ketika digunakan dalam menilai karya seni. Hal ini mestinya diurai dan dibahas lebih panjang lagi. Sebab, banyak ekses dikemudian harinya yang akan dijumpai, terkait kecenderungan Propinsi Jambi untuk menjadi tuan rumah dalam event-event seni-budaya bertaraf regional, nasional maupun internasional.
Tapi pun, ini sepenuhnya bukan kesalahan bapak itu, atau juga penonton kebanyakan. Persoalan yang diusung dalam lakon itu tidak relevan dalam semua situasi. Feminisme (liberal) jelas memiliki kadar relativitas tinggi. Dan, salah satu kelemahan naskah Ophelia dalam Lentera—jika itu memang dapat disebut sebuah naskah, mungkin terletak di sini. Ia tak menyertai, ia menganggap audiens telah membaca, paling tidak mengetahui siapa itu Hamlet, dan bagaimana pula sepak terjangannya. Ia merasa, dengan sedikit catatan (sinopsis) pada leaflet pementasan, penonton akan dapat memahami dan memaklumi beban yang ditanggung Ophelia, serta gegap-gempita perlawanan yang terjadi di luar sana.
Begitupun dalam visualisasinya, hypogram ini menjadi tidak konsisten dan semakin jauh dari relevansinya, sebab jika setting dibangun dengan nuansa “asli” di negeri antah-barantah, dialog terasa ganjil ketika kita menangkap lesatan nama-nama semisal, Aristoteles, Machiavelli, Napoleon, dan bahkan Louis 14, Drupadi dan Pandawa. Sebab, masing-masing tokoh yang disebutkan lahir dalam zaman yang berbeda, dan alam yang berbeda. Kecuali mungkin, naskah ini berdiri sendiri. Terlepas dari konteks dan visualisasi Hamlet.
Atau mungkin memang demikian maksud pementasan malam itu. Hamlet dan Ophelia adalah representasi hamlet-hamlet dan ophelia-ophelia (laki-laki dan perempuan) yang diwujudkan sebagai manusia-manusia. “Adalah pikiran-pikiran dari Hamlet yang tiada berbatas dan beruang”, sehingga dianggap relevan dalam situasi dan konteks apapun. Sebagai tubuh-tubuh yang diwakili oleh beberapa aktor dengan letupan-letupan emosi non-temporalitas. Panggung kemudian menjadi pertarungan dan altar pengakuan dosa Hamlet kepada Ophelia. Ketelanjangan, tubuh, rantai, serta liukan erotis merupakan simbol yang kontras, yang musti dipahami, tidak dengan kacamata kuda.
* * *
Nurul Fahmy,
Belum ada komentar.
Tinggalkan komentar
-
Arsip
- September 2008 (1)
- Mei 2008 (1)
- April 2008 (1)
- Februari 2008 (4)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS